mouse

SpongeBob SquarePants

Rabu, 30 Desember 2020

MAKALAH PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN

 

MATERI PAI TINGKAT DASAR

Materi Perbuatan-perbuatan Allah

 

Dosen: Drs. H. Wartono, M.Si.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Disusun Oleh:

 

Iyan Alfhiyan


 

 

 

 

 

 

 

 

STAI AL-HIDAYAH BOGOR

TAHUN AJARAN 2020-2021


KATA PENGANTAR

 

Alhamdulillah puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah S.W.T. yang telah memberikan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Materi PAI Tingkat Dasar yang berjudul “Perbuatan-perbuatan Allah”.  Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada baginda kita, Nabi Muhammad S.A.W. keluarga, dan para sahabatnya yang setia sampai akhir zaman.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata Sosiologi Pendidikan Islam, penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada Drs. H. Wartono, M.Si.  selaku dosen mata kuliah Materi PAI Tingkat Dasar yang telah memberikan bimbingan, dorongan dan nasehat yang baik kepada kami. Dan penulis juga mengucapkan terima kasih kepada teman teman dan semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan tugas ini.

Penulis menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan pada masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi para pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bogor, 9 Desember 2020

 

 

 

 

Penulis,


 

DAFTAR ISI

 

BAB I. iv

PENDAHULUAN.. iv

A.   Latar Belakang Masalah. iv

B.    Rumusan Masalah. iv

C.   Tujuan Penulisan. iv

BAB II. 1

PEMBAHASAN.. 1

A.   Pengertian Perbuatan Allah. 1

B.    Perbandingan Antar Aliran Ilmu Kalam Terhadap Perbuatan Allah. 1

1.     Aliran Mu’tazilah. 1

2.     Aliran Asy’ariyah. 4

3.     Aliran Maturidiyah. 5

BAB III. 8

PENUTUP.. 8

A.   Kesimpulan. 8

B.    Saran. 8

DAFTAR PUSTAKA.. 9

 


 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.           Latar Belakang Masalah

Ilmu Tauhid (kalam) merupakan disiplin ilmu keislaman yang mengedepankan pembicaraan tentang persoalan-persoalan kalam Allah. Persoalan-persoalan kalam ini biasanya mengarah pada perbincangan yang mendalam dengan dasar argumen-argumen. Baik secara rasional (aqliyah) maupun naqliyah, argumentasi rasional yang dimaksud adalah landasan pemahaman yang cenderung menggunakan metode berpikir filosofis. Sedangkan argumentasi naqliyah biasanya berdasar pada argumentasi berupa dalil-dalil Quran dan Hadits.

Dampak dari ilmu kalam ini juga melahirkan banyak aliran banyak perbedaan pemikiran tentang perbuatan-perbuatan Allah dan perbuatan- perbuatan manusia. Oleh karena itu mengenai perbedaan ini untuk lebih jelasnya akan di bahas dalam makalah ini.

 

B.            Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian Pengertian perbuatan Allah?

2.      Bagaimana perbandingan dari berbagai aliran tentang perbuatan-perbuatan Allah?

 

C.           Tujuan Penulisan

1.      Untuk mengetahui apa pengertian perbuatan Allah.

2.      Agar mengetahui bagaimana perbandingan terhadap perbuatan-perbuatan Allah.



BAB II

PEMBAHASAN

 

A.           Pengertian Perbuatan Allah

Perbuatan Allah ialah setiap kejadian yang berlaku di alam ini dengan kehendak dan iradah Allah S.W.T. Contohnya ialah kejadian siang dan malam, bencana alam, pasang surut lautan dan lain-lain adalah di bawah kekuasaan Allah. Firman Allah SWT:

اَمِ اتَّخَذُوۡۤا اٰلِهَةً مِّنَ الۡاَرۡضِ هُمۡ يُنۡشِرُوۡنَ

Apakah mereka mengambil Allah-Allah dari bumi, yang dapat menghidupkan (orang-orang yang mati)?” (Q.S. Al-Anbiya: 21)

Berdasarkan ayat diatas, semua ciptaan Allah mempunyai hikmah dan rahasia yang tertentu. Orang yang menggunakan akal fikiran akan dapat mengungkap rahasia ciptaan Allah itu.

 

B.            Perbandingan Antar Aliran Ilmu Kalam Terhadap Perbuatan Allah

1.             Aliran Mu’tazilah

Aliran Mu’tazilah merupakan aliran kalam yang bercorak rasional (rasional menurut KBBI adalah menurut pikiran dan pertimbangan yang logis). Aliran Mu’tazilah ini berpendapat bahwa perbuatan Allah yaitu:

a.              Kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia

Dilihat dari uraian tentang kekuasaan mutlak Allah dan keadilan Allah, kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Allah mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap manusia. Kewajiban-kewajiban itu dapat disimpulkan dalam satu kewajiban. Yaitu kewajiban berbuat baik.  Namun, tidak berarti bahwa Allah tidak mampu melakukan perbuatan buruk. Allah tidak melakukan perbuatan buruk karena ia mengetahui keburukan dari perbuatan buruk itu.[1] Di dalam al-Qur’an telah jelas dikatakan bahwa Allah tidaklah berbuat zalim. Ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dalil oleh aliran Mu’tazilah untuk mendukung pendapatnya adalah Q.S. Al-Anbiya ayat ke 23 yang artinya: “Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang ia lakukan, tetapi merekalah yang akan ditanya”. Dan Surat Ar-Rum 8 yang artinya: “…Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya, melainkan dengan tujuan yang benar…”

Seorang tokoh yang bernama, Qadi Abd Al-Jabar[2] berpendapat bahwa ayat yang diatas memberi petunjuk bahwa Allah hanya berbuat baik. Dengan demikian, Allah tidak perlu ditanya. Maksudnya yaitu: ketika seseorang yang dikenal baik, dan secara nyata berbuat baik, maka tidak perlu ditanya mengapa berbuat baik? Sedangkan, ayat yang kedua menurut Al-Jabar, bahwasannya mengandung petunjuk bahwa Allah tidak pernah dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan buruk. Andaikata Allah melakukan perbuatan buruk, maka pernyataan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya dengan hak, tentulah tidak benar atau berita bohong.

Dalam faham ini, termasuklah juga kewajiban-kewajiban seperti kewajiban Allah dalam menepati janji-janjinya, kewajiban Allah mengirim rasul-rasul untuk memberi petunjuk kepada manusia, dan kewajiban Allah memberi rezeki kepada manusia dan sebaginya.

b.             Berbuat baik dan terbaik

Adanya konsep tentang keadilan Allah, mendorong kelompok mu’tazilah untuk berpendapat bahwa Allah mempunyai kewajiban berbuat baik dan terbaik terhadap manusia.

Dalam berbuat baik dan terbaik bagi manusia yaitu kewajiban Allah berbuat baik bahkan yang terbaik bagi manusia. Hal ini memang merupakan salah satu keyakinan yang penting bagi kaum Mu’tazilah.

 

 

 

c.              Beban di luar kemampuan manusia

Memberi beban di luar kemampuan manusia (Taklif ma la yutaq) adalah bertentangan dengan faham berbuat baik dan terbaik. Oleh karena itu kaum Mu’tazilah tidak dapat menerima faham bahwa Allah dapat memberikan manusia beban yang tak dapat dipikul. Hal ini juga bertentangan dengan faham mereka tentang keadilan Allah. Allah akan bersifat tidak adil, kalau ia memberikan beban yang terlalu berat kepada manusia.

d.             Pengiriman rasul

Bagi aliran Mu’tazilah, dengan kepercayaan mereka bahwasannya akal dapat mengetahui hal-hal ghaib, sehingga menurutnya pengiriman rasul-rasul tidaklah begitu penting. Namun, mereka memasukkan pengiriman rasul-rasul kepada umat manusia menjadi salah satu kewajiban Allah. Argumentasi mereka adalah kondisi akal yang tidak dapat mengetahi setiap apa yang harus diketahui manusia tentang Allah dan alam ghaib. Oleh karena itu, Allah berkewajiban berbuat yang baik dan terbaik bagi manusia dengan cara mengirim rasul. Tanpa rasul, manusia tidak akan memperoleh hidup baik di dunia dan di akhirat nanti.

e.              Janji dan ancaman

Dalam pebuatan-perbuatan Allah termasuk perbuatan menepati janji dan menjalankan ancaman. Janji dan ancaman merupakan salah satu dari lima dasar kepercayaan aliran Mu’tazilah, hal ini erat hubungannya dengan dasar kedua, yaitu keadilan. Allah tidak akan bersifat tidak adil jika tidak menepati janji untuk memberi pahala kepada orang yang berbuat baik, dan menjalankan ancaman terhadap orang yang berbuat jahat. Menurut Abd Al-Jabar, hal ini akan membuat Allah mempunyai sifat berdusta. Selanjutnya keadaan menepati janji dan tidak menjalankan ancaman bertentangan dengan maslahat dan kepentingan manusia. Oleh karena itu, menepati janji dan menjalankan ancaman adalah wajib bagi Allah.

 

 

 

2.             Aliran Asy’ariyah

a.              Kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia

Menurut aliran Asy’ariyah, faham kewajiban Allah yang dikatakan oleh aliran Mu’tazilah, tidak dapat diterima karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak Allah yang mereka anut. Faham yang mengatakan bahwa Allah dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap makhluk mengandung arti bahwa Allah tidak mempunyai kewajiban apa-apa.

Sebagaimana dikatakan Al-Gazali, perbuatan-perbuatan Allah bersifat tidak wajib (ja’iz) dan tidak satupun darinya yang mempunyai sifat wajib.

b.             Berbuat baik dan terbaik

Hal ini ditegaskan oleh Al-Gazali, ketika mengatakan bahwa Allah tidak berkewajiban berbuat baik dan terbaik bagi manusia. Dengan demikian, aliran Asy’ariyah tidak menerima faham Allah mempunyai kewajiban. Allah dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap makhluknya.

c.              Beban di luar kemampuan manusia

Aliran Asy’ariyah, karena percaya pada kekuasaan mutlak Allah dan berpendapat bahwa Allah tidak mempunyai kewajiban apa-apa. Aliran Asy’ariyah menerima faham pemberian beban di luar kemampuan manusia. Asy’ariyah sendiri dengan tegas mengatakan dalam al-Luma’, bahwa Allah dapat meletakkan pada manusia beban yang tidak dapat dipikul. Al-Gazali juga mengatakan demikian dalam al-Iqtisad.

d.             Pengiriman rasul-rasul

Walaupun pengiriman rasul memiliki arti penting dalam teologi. Namun Aliran Asy’ariyah menolak sebagai kewajiban Allah. Karena hal itu bertentangan dengan keyakinan mereka bahwa Allah tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap manusia. Faham ini dapat membawa akibat yang tidak baik. Sekiranya Allah tidak mengutus rasul kepada umat manusia, hidup manusia akan mengalami kekacauan.

Tanpa wahyu manusia tidak dapat membedakan perbuatan baik dan perbuatan buruk, manusia akan berbuat apa saja yang dikehendakinya. Namun, sesuai dengan faham Asy’ariyah tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Allah, hal ini tidak menjadi permasalahan bagi teologi mereka. Allah berbuat apa saja yang dikehendakinya. Kalau Allah menghendaki manusia hidup dalam masyarakat kacau.

e.              Janji dan ancaman

Bagi kaum Asy’ariyah faham ini tidak dapat berjalan sejajar dengan keyakinan mereka tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Allah, dan tentang tidak adanya kewajiban-kewajiban bagi Allah. Allah tidak mempunyai kewajiban menepati janji dan menjalankan ancaman yang tersebut dalam al-Qur’an dan Hadits.

Tetapi disini timbul persoalan bagi kaum Asy’ariyah, karena dalam al-Qur’an dengan tegas dikatakan bahwa siapa yang berbuat baik akan masuk surga dan siapa yang berbuat jahat akan masuk neraka.

 Untuk mengatasi hal ini, kata-kata arab man, allazina dan sebagainya yang menggambarkan arti siapa, oleh Asy’ariyah sendiri berinterpretasi “bukan semua orang, tetapi sebagian”. dengan demikian kata “siapa” dalam ayat “Barang siapa menelan harta anak yatim piatu dengan cara tidak adil, maka ia sebenarnya menelan api masuk kedalam perutnya”. Mengandung arti bukan seluruh tetapi sebagian orang yang menelan harta yatim piatu. Yang sebagian akan terlepas dari ancaman atas dasar kekuasaan dan kehendak mutlak Allah. Dengan interpretasi demikianlah Asy’ariyah mengatasi persoalan wajibnya Allah menepati janji dan menjalankan ancaman.

3.             Aliran Maturidiyah

Dalam sejarah pertumbuhan aliran-aliran kalam, dikenal dua sub sekte aliran Maturidiyah, yaitu Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara. Sub sekte yang pertama tumbuh di Samarkand dengan pendirinya Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi. Adapun sub sekte yang kedua lahir Bukhara dengan pendirinya adalah Abu Yasr Muhammad Al-Basdawi.

a.              Kewajiban-kewajiban Allah terhadap manusia

Dalam pandangan kewajiban-kewajiban Allah, menurut Maturidiyah Samarkand dan Maturidiyah Bukhara ada perbedaan pendapat yaitu:

Menurut Maturidiyah Samarkand, yang juga memberikan batas pada kekuasaan dan kehendak mutlak Allah, berpendapat bahwa perbuatan Allah hanyalah menyangkut hal-hal yang baik saja, dengan demikian, Allah mempunyai kewajiban melakukan yang baik bagi manusia.

Sedangkan menurut, Maturidiyah Bukhara dimana memiliki pandangan yang sama dengan Asy’ariyah mengenai faham bahwa Allah tidak mempunyai kewajiban. Namun, sebagaimana dijelaskan oleh Badzawi, Allah pasti menepati janjinya, seperti memberi upah kepada orang yang berbuat baik. Walaupun mungkin saja membatalkan ancaman bagi orang yang berdosa besar.

b.             Berbuat baik dan terbaik

Kaum Maturidiyah dengan kedua golongannya tidak sefaham dengan kaum Mu’tazilah. Dimana kaum Mu’tazilah berpendapat bahwasannya Allah mempunyai kewajiban berbuat baik dan terbaik terhadap manusia.

c.              Beban di luar kemampuan manusia

Menurut Maturidiyah Bukhara Allah tidak mempunyai tujuan dan tidak mempunyai unsur pendorong untuk menciptakan kosmos. Allah berbuat sekehendak-Nya sendiri. Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Allah dan tidak ada larangan bagi Allah. [3]

Sedangkan golongan Maturidiyah Samarkand, mengambil posisi yang dekat dengan aliran Mu’tazilah. Menurut Syarh al-Fiqh al Akbar, al-Maturidi Samarkand tidak setuju dengan pendapat kaum Asy’ariyah dalam hal ini, karena al-Qur’an mengatakan bahwa Allah tidak membebani manusia dengan kewajiban-kewajiban yang tidak terpikul. Pemberian beban yang tidak terpikul memang tidak dapat sejalan dengan faham golongan Samarkand bahwa manusialah sebenarnya yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya dan bukan Allah.

d.             Pengiriman rasul-rasul

Pengiriman rasul dipandang Maturidiyah Samarkand sebagai kewajiban Allah, kewajiban menepati janji dan pemberian ancaman.

Aliran Maturidiyah golongan Bukhara sefaham dengan aliran Asy’ariyah. Menurut mereka pengiriman rasul tidaklah bersifat wajib dan hanya bersifat mungkin.

e.              Janji dan ancaman

Kaum Maturidiyah Bukhara dalam hal ini tidak seluruhnya sefaham dengan kaum Asy’ariyah. Dalam pendapat mereka, sebagai dijelaskan oleh al-Bazdawi, tidak mungkin Allah melanggar janjinya untuk memberi upah kepada orang yang berbuat baik, tetapi sebaliknya bukan tidak mungkin Allah membatalkan ancaman untuk memberi hukuman kepada orang yang berbuat jahat. Oleh karena itu nasib orang yang berdosa besar ditentukan oleh kehendak mutlak Allah. Jika Allah berkehendak untuk memberi ampun kepada orang yang berdosa, Allah akan memasukkannya bukan kedalam neraka, tetapi kedalam surga, dan jika ia berkehendak untuk memberi hukuman kepadanya Allah akan memasukkannya kedalam neraka buat sementara atau buat selama-lamanya. Bukan tidak mungkin bahwa Allah memberi ampun kepada seseorang tetapi dalam hal itu, tidak memberi ampun kepada orang lain sungguhpun dosanya sama.

Uraian al-Bazdawi di atas mengandung arti bahwa Allah wajib menepati janji untuk memberi upah kepada yang berbuat baik. Dengan demikian, Allah, dalam faham al-Bazdawi mempunyai kewajiban terhadap manusia. Pendapat ini berlawanan dengan pendapatnya yang dijelaskan sebelumnya, bahwa Allah sekali-kali tidak mempunyai kewajiban apa-apa terhadap manusia. Dari sini dapat diketahui bahwa menurut paham al-Bazdawi Allah boleh saja melanggar janji-janjinya.

Bagi Maturidiyah golongan Bukhara, Allah tidak mungkin melanggar janji untuk memberi upah kepada orang yang berbuat baik. Kontradiksi yang terdapat dalam pendapat al-Bazdawi ini mungkin timbul dari keinginannya untuk mempertahankan kekuasaan dan kehendak mutlak Allah, tetapi dalam hal itu ingin pula mempertahankan keadilan Allah. Mengatakan bahwa Allah dapat memasukkan orang yang berbuat baik kedalam neraka, adalah bertentangan sekali dengan rasa keadilan, tetapi mengatakan bahwa Allah dapat memasukkan orang yang berbuat jahat kedalam surga, tidaklah bertentangan dengan rahmat Allah.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.           Kesimpulan

Perbuatan Allah menurut Aliran Mu’tazilah Allah memiliki kewajiban terhadap manusia, yaitu berbuat baik. Namun bukan berarti Allah tidak mampu melakukan perbuatan buruk. Allah wajib berbuat baik dan terbaik. Allah dapat memberi beban yang tidak dapat dipikul kepada hambanya. Allah mempunyai kewajiban mengirim Rosul. Allah wajib menepati janji dan menjalankan ancaman. Sedangkan Menurut Aliran Asy’ariyah Allah tidak memiliki kewajiban apa-apa, tetapi Allah bersifat Jaiz. Dan bagi Aliran Maturidiyah, ada 2 perbedaan pendapat, yakni Maturidiyah Samarkand berpendapat Allah berkehendak hanya yang menyangkut hal-hal baik saja. Allah tidak membebani hambanya dengan beban yang tidak dapat dipikulnya. Allah wajib mengirimkan Rasul. Allah wajib menepati janji untuk member upah yang berbuat baik. Dan menurut Maturidiyah Bukhara Allah tidak memiliki kewajiban apa-apa, tetapi Allah bersifat Jaiz.

 

B.            Saran

Kami menyadari bahwa makalah yang kami susun ini, masih terdapat kekurangan disana sini, oleh karena itu penulis sangat meminta kritikan dan saran dari para pembaca agar makalah yang kami buat ini bisa menjadi lebih baik lagi dan bisa berguna bagi kita semua.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anwar Rosihon. (2009). Ilmu Kalam. Bandung:  CV Pustaka Setia.

Muhammad Abdul, Kalam, http://digilib.uinsby.ac.id/9559/4/bab%201.pdf 

https://www.academia.edu/35396154/PEMIKIRAN_KALAM_TNTANG_PERBUATAN_ALLAH_DAN_PERBUATAN_MANUSIA

 

 

 

 

 



[1] Anwar Rosihon. (2009). Ilmu Kalam. Bandung:  CV Pustaka Setia. h. 154

 

 

[2] Dalam kitab “Mutasyabih al - Qur’an”, disebutkan nama lengkap al -Jabar ibn Ahmad ibn’Abd al-Jabbar ibn Ahmad ibn al-Khalil ibn’Abd Allah al-Hamzani al-Asadabi, namun lebih dikenal dengan nama Al-Qadi ‘Abd al-Jabbar, tahun kelahirannya hanya diperkirakan antara 320-325 dan wafat dikota Ray pada tahun 415 H

 

 

[3] Muhammad Abdul, Kalam, http://digilib.uinsby.ac.id/9559/4/bab%201.pdf 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar